Liburan 21-25 Desember 2012 part 1

Long weekend! Apa yang paling dinanti seorang perantau  yang jauh dari keluarga pada bulan-bulan kerja yang masih jauh dari libur panjang Lebaran? Jawabannya yaitu: long weekend

Long weekend kali ini hadir daalam rangka hari Natal yang jatuh pada hari Selasa. Maka, ada empat hari libur dari Jumat sampai Selasa. Akan sangat membosankan (dan menggalaukan) kalau empat hari yang sungguh berharga itu aku habiskan di mes saja. Secara aku sama sekali belum mengenal kota Medan beserta tarif angkutan umumnya (kalau-kalau aku ingin jalan-jalan di dalam kota).

Aku baru seminggu berada di Medan ini. Dulu, saat pertama kali penempatan Medan, aku sangat pede akan berhasil menaklukkan kota ketiga terbesar di Indonesia ini. Jakarta aja bisa aku taklukkin kok. Apalagi Medan yang provinsinya saja bersebelahan dengan provinsi asalku, nada bicara yang mirip (dibanding dengan nada bicara Jawa dan Sunda yang sudah berhasil aku kuasai) dan aku juga pernah tinggal di provinsi ini dulu.

Temanku asal Jawa yang sama-sama penempatan denganku, memang dari awal sudah pernah bilang ingin ikut aku pulang kampong. Tapi, karena masih ada beberapa hal yang membuat galau saat di Medan, sampai H-1 belum ada keputusan kami jadi pulang atau tidak. Akhirnya, setelah rempong tanya-tanya ke orang tua dan melibatkan teman papa, supir kantor dan teman kuliah yang aku tidak kenal, maka diputuskan kami pulang dengan travel omprengan pada Jumat sore.

Masih banyak lagi kerempongan yang terjadi sebelum memulai perjalanan. Supir travel yang harus menjemput ke mes jam 6 sore tidak tahu dimana mes tempatku tinggal sementara. Dia menelepon berkali-kali dan mengajukan pertanyaan yang aku sama sekali tidak tahu jawabannya. Akhirnya aku dengan pedenya bertanya pada salah seoang supir kantor dan karena setelah beliau menjelaskan aku tidak paham-paham juga (maklumlah, aku tidak bisa membayangkan nama-nama tempat yang disebutkannya itu), beliaulah yang menghubungi supir itu langsung. Setelah buru-buru absen jam 5, aku dan temanku yang ikut pulang, sebut saja Zizi, buru-buru mencegat becak motor dan langsung capcus ke mes. Karena supir berjanji menjemput jam 6, Zizi memutuskan untuk mandi dulu. Tapi ujug-ujug, jam setengah enam lewat sedikit, sang supir sudah meneleponku, mengatakan bahwa mereka sudah menunggu di depan -_-. Walhasil aku harus menggedor-gedor kamar mandi biar ZIzi mempercepat mandinya.

Awal perjalanan pun tidaklah mulus. Ternyata Medan juga macet. Dan kami dijemput yang kedua, yang artinya masih ada empat orang lagi yang harus dijemput. Parahnya, sebagian besar dari mereka rempongnya bukan main. Ada yang minta ditunggu dulu karena dia masih belum kelar kuliah. Ada yang alamatnya masuk ke gang kecil dan sempit. Ada yang kehilangan ATM dan harus mencari dulu -_-.

Sekitar jam 08.30 pm kami sampai ke loket travel. Ban mobil bocor sehingga harus ditambal dulu. Sip lah. Setengah jam lebih additional untuk mengganti ban. Barulah akhirnya kami berjalan meninggalkan kota Medan.

Awalnya aku mengira Medan-Bukittinggi bisa ditempuh dalam waktu 12 jam saja. Tapi ada beberapa teman yang mengatakan sebenarnya watu tempuhnya sekitar 18 jam. Tapiiii, perjalanan kami ternyata dilalui dalam waktu 22 jam!!!

Kenapa? Pertama, karena kami butuh 3,5 jam keliling-keliling kota Medan sebelum akhirnya benar-benar keluar kota. Kedua, karena si supir tidak mau memacu mobilnya dengan kencang, padahal aku sudah request. Ketiga, banyak pemberhentian yang sebenarnya tidak penting. Keempat, jalanan rusak.

Jalanan rusak itulah yang membuat hari miris dan badan sakit-sakit. Ada sekitar hampir semalaman jalanan rusak itu. Rusaknya itu benar-benar rusak. Miris sekali jalan lintas Sumatera seperti itu. Jalannya berlubang dan sama sekali tidak rata. Mobil APV yang jadi armada travel kami itu sudah reyak-reyok berusaha mengarungi jalanan itu. Tidak tahu apakah jalur kami memang jalur lintas Sumateera atau tidak, tapi kami sempat melewati jalan-jalan kecil seperti jalanan desa, bukan jalan lintas Sumatera.

Tapi, sejujurnya, pemandangan yang ditawarkan sepanjang perjalanan cukup menghibur dan mengusir kepenatan badan. Kami melewati daerah Parapat. Dari sana bisa terlihat Danau Toba. Karena kami melewatinya sudah tengah malam, jalanan sudah tidak begitu ramai.

                            -bersambung-

 

#post berikutnya akan dilengkapi dengan foto-foto

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tentang Orang Aneh (Bag. 1)

Di semua komunitas yang terdiri dari lebih dari 10 orang, hampir bisa dipastikan bahwa setidaknya ada satu orang yang memiliki kelainan sifat. Orang-orang seperti itu biasa dikenal sebagai “orang aneh” atau bahasa gaul Inggrisnya “freak”. Itu juga yang belakangan aku sadari terjadi di kantor.

Sebenarnya tidak hanya satu orang yang aneh di kantor. Ada cukup banyak orang aneh dengan berbagai level keanehan tersendiri di kantor. Tapi karena orang aneh yang satu ini bersikap sangat aneh kepadaku langsung, dan apa yang dilakukannya sangat membekas di hati, aku benar-benar ingin mengabadikan apa yang dia lakukan ini dalam sebuah tulisan dan mem-posting di internet. Ga tahan aja dengan keanehan yang benar-benar aneh bin ajaib dari si orang aneh yang satu ini.

Sebut saja namanya Hera. Umurnya kira-kira akhir 40-an, atau mungkin awal 50-an. Dia berasal dari daerah di selatan Sumatera. Dan sampai sekarang Bu Hera ini belum menikah.

Pertama kali mulai magang di kantor, aku dan ke-14 temanku yang lain belum kebagian meja sendiri (sampai sekarang sebenarnya juga masih nebeng di meja pegawai lain sih sebenarnya), jadi kami duduk dulu di kursi yang kosong. Aku dan salah satu teman perempuanku, sebut saja Afra, duduk di meja yang paling pojok dekat pintu masuk. Nah, salah satu ibu-ibu di ruangan langsung menegur, “Eh, Lavy sama Afra jangan duduk di sana! Bisa bahaya kamu! Pindah ke tempat lain aja!”

Waktu itu aku sudah penasaran kenapa sampai segitunya si ibu memperingatkan kami. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian, aku mendengar cerita tentang si ibu aneh pemilik meja tersebut. Ibu Hera ini terkenal galak dan sangat tidak menyenangkan. Dia pernah memarahi seorang anak magang (beberapa tahun sebelumnya) karena si anak magang tidak menjawab pertanyaannya, padahal si anak itu sedang memakai headset sehingga tidak mendengar pertanyaannya. Dia juga pernah dengan galaknya marah pada anak magang lain karena duduk di depannya; padahal susunan meja di ruangan memang berbanjar ke belakang gitu jadi mau ga mau ada yang duduk di meja di depan Bu Hera ini -_-. Pernah juga dia meludahi seorang pegawai karena surat tugasnya lambat diproses.

Tapi sampai beberapa minggu aku ngantor di sana, aku belum melihat keanehan langsung dari si ibu ini. Apalagi dia memang terkenal sebagai pemakan gaji buta. Cuma datang pagi buat absen, terus nongkrong bentar di ruangan. Jam 9 sudah menghilang dari ruangan. Bahkan sering juga dia cuma ngabsen di lobi bawah dan tidak naik ke ruangan ke atas. Otomatis aku dan anak-anak magang lainnya jarang sekali bertemu dengannya, boro-boro berinteraksi.

Sampai akhirnya pada suatu hari teman-temanku yang dapat satu surat tugas dengannya bercerita tentang Bu Hera. Mereka bilang Bu Hera ini sudah ketahuan modusnya tiap hari. Mereka bekerja di sebuah kantor dinas Pemda di daerah Jakarta Timur. Setiap jam 10-an ibu itu permisi ke toilet dengan membawa tas, lalu ga nongol lagi. Sama sekali tidak mengerjakan tugas bagiannya. Parahnya, ketika uang translog dari Pemda telat turun, dia mendatangi bagian keuangan Pemda dan ngomel-ngomel di sana. Membuat malu satu bidang.

Tapi, poin dari postingan kali ini baru saja akan dimulai. Sebuah kejadian yang sangat membekas di hatiku.

Saat itu ruanganku sedang direnovasi sehingga kami seruangan boyongan ke lantai 2. Jadi waktu itu sekitar jam 8 pagi, aku mau shalat Dhuha. Aku wudhu ke kamar mandi lantai 2 itu. Saat masuk, bilik toiletnya tertutup, yang menandakan ada orang di dalam toilet *iyalah. Aku cuek aja karena niatnya cuma wudhu di keran di luar.

Waktu lagi wudhu itulah Bu Hera keluar dari toilet itu. Aku lempeng aja terus wudhu. Bukannya sombong ga nyapa, tapi emang si ibu ini ga pernah menjawab sapaan. Disenyumin dia cuma mandangin dengan tatapan ga enak. Disapa malah didiamkan. Jadi sudah beberapa waktu aku memutuskan untuk tidak menyapanya lagi. Ibu itu juga ga nyapa *tentu saja* dan langsung berdiri di depan cermin di dekat keran wudhu buat ngaca.

Tiba-tiba ─waktu aku masih wudhu─  si ibu itu ngomong sesuatu. Karena lagi wudhu aku ga jelas dengarnya. Jadi aku menoleh dan bertanya dengan sopannya, “Apa Bu?”

Tanggapannya? Hanya sebuah jawaban “Nggak” dan lirikan tidak menyenangkan.

Karena merasa si ibu itu memang aneh dan tadi dia lagi bicara sendiri, aku lanjut lagi wudhunya (perasaan dari tadi wudhu lama banget dah -_-). Selesai wudhu, aku berdiri di belakang si ibu untuk merapikan kerudung. Dan di sanalah segalanya dimulai.

Aku akan bercerita dalam bentuk percakapan.

Keterangan: ASAB = Aku Si Anak Baik

                   HSIA = Hera Si Ibu Aneh

HSIA: Kamu yang selama ini suka ngikutin saya ya? *dengan suara berat tidak menyenangkan dan tatapan yang super menyebalkan.

ASAB: *cengo, bingung, terdiam*

HSIA: Iya kan? Kamu yang selama ini suka ngikut-ngikutin saya.

ASAB: Maksudnya, Bu? *masih polos dan sopan ni ceritanya.

HSIA: Kamu selalu ngikutin saya. Saya pakai baju biru, kamu juga pakai biru. Saya pakai coklat, kamu juga pakai coklat. Selalu ngikutin saya kan kamu?

ASAB: *terdiam lagi*

HSIA: Sekarang saya ke kamar mandi kamu juga ngikutin kan? Mau ngapain kamu? Mau ngintipin saya ya?

Sampai kalimat “Mau ngapain kamu?” aku masih bingung dan syok. Tapi ketika dia bilang “Mau ngintipin saya ya?”, aku mulai berpikir apa ibu ini lagi bercanda. Siapa bilang orang aneh ga bisa bercanda? Meski bercandanya aneh. Masa aku mau ngintip dia di kamar mandi? Helooo!! Aku ini cewek gitu loh bu. Ga minat sama sekali ngintipin ibu yang lagi entah-mengapa itu di toilet. Lagian, tadi kan dia melihat sendiri aku lagi wudhu. Jadi, pede bahwa dia bercanda, aku menjawab sambil tertawa.

ASAB: Ga lah, Bu. *nyengir*

HSIA: Ngikutin saya ke kamar mandi itu ngapain kalau bukan mau ngintipin? Parah kamu ya! *masih dengan nada menyebalkan dan suara berat*

ASAB: *kaget lagi dan sadar bahwa si ibu sedang tidak bercanda*

HSIA: Kamu Laviana kan?

ASAB: *kaget si ibu tau namaku* Iya, Bu.

HSIA: Besok saya mau pakai biru kamu juga mau pakai biru, ha?

ASAB: *tiba-tiba mendapatkan kekuatan* Ga kok Bu. Besok saya gam mau pakai biru.

HSIA: Jadi selama ini kamu ga sadar selalu nyamain saya?

ASAB: Ga, Bu.

HSIA: Muka tembok kamu ya! *dengan nada sinis*

Lalu si ibu aneh keluar kamar mandi.

Aku masih berdiri di depan cermin sambil merapikan kerudung dengan tangan bergetar. Syok dan terguncang dengan ke-freak-an si ibu itu.

Dia bilang aku ngikutin dia? Apa ga salah tu? Boro-boro ngikutin, aku bahkan tidak ingat apa warna bajunya selama ini. Bukannya malah dia yang lebay merhatiin bajuku terus? Dan sekadar informasi, dari (hanya) empat potong baju batik yang aku punya (yang harus dipakai hari Rabu dan Jumat), warnanya memang cuma biru dan coklat.

Lagian, dia sampai tahu namaku segala. Padahal seumur-umur ga pernah ngobrol sama dia. Anak-anak magang yang lain juga kayanya ga ada yang ngobrol sama dia. Terus dia berarti nyari tahu namaku dong. Ketahuan kan dia yang freak.

Ketika aku keluar dari kamar mandi si ibu aneh sedang berdiri di depan pintu ruangan yang ditempatin anak-anak magang. Aku langsung masuk aja ke ruangan yang satunya, yang sudah berisi beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak. Dan untung ada satu orang anak magang juga di sana sehingga aku langsung cerita dengan tampang hampir nangis. Temanku ini, sebut saja Ibra, juga langsung menenangkanku karena melihat tampangku yang udah kasihan sekali. Dan mungkin karena melihat itu juga, salah satu ibu-ibu itu, sebut sama ibu Evi mendatangiku dan menanyakan ada apa. Lalu aku mengulang ceritanya pada Bu Evi.

Bu Evi langsung ketawa. “Kamu rugi kalau nangis gara-gara dia, Vy. Semua orang di sini udah pernah digituin sama dia.”

Lalu keluarlah cerita dari mulut Bu Evi. Apa yang aku alami itu masih belum seberapa dari yang dialami sebagian orang lainnya. Ada teman Bu Evi, yang bekerja di kantor pusat dan sama sekali tidak saling kenal dengan si ibu aneh, tiba-tiba dimaki waktu di kamar mandi. Ibu malang itu dikatai “pelacur”, “perempuan ga benar” dan sebagainya. Paraaah gilllaaaa.

Entah apa penyebab keanehan ibu itu. Yang jelas dia sudah tidak 100% waras lagi. Sebagian ibu-ibu di ruangan berteori bahwa dia begitu karena tidak kunjung menikah di usianya yang sudah setengah abad. Tapi bisa juga dia tidak kunjung menikah karena sifatnya yang freak itu.

Hanya Tuhan yang tahu.

Tambahan: ketika aku cerita ke teman-teman magangku, mereka langsung sepakat untuk memakai baju biru buat besok, hari Jumat. Tapi karena batik biruku Cuma satu, aku otomatis harus pakai yang coklat. Sementara teman-teman yang cewek (3 orang) juga berhalangan memakai biru (ada yang ga punya dan ada yang karena lagi nginap di tempat temannya sehingga ga punya cadangan). Besoknya, semua pakai batik warna-warni (ga ada yang biru), kecuali Ibra. Parahnya, dia juga ga punya batik biru sehingga memakai kemeja biru -_-. #pukpuk

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

SAVE FOR INTRODUCTION

SAVE SAVE SAVE SAVE SAVE SAVE SAVE SAVE SAVE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment